“Kau harus mengejar impianmu!” Nasehatku dulu kepada Mahapatihku, “jangan mau dikalahkan oleh takdir! Mana ambisimu?!” Benci aku dulu melihatnya selalu mengalah. Dan inilah dia, mahapatih Pramashtara, bersama Mahamentri, dan beberapa bekas patihku, memimpin pasukan pemberontak, menentang takdir! Aku, Sang Maha Utama, Rajadiraja Maulana pemegang tahta Chakrasanggajaya, mengajarkan Mahapatihnya untuk merebut tahtaku! “Hahahahahah!!” Sudah lama aku tidak tertawa lepas seperti ini. Kembali aku terdiam dan berbicara dalam benakku, ternyata aku harus turun tangan sendiri, dan tidak ada ampun untuk mereka berdua! Segera kusuruh pergi pengintaiku yang baru saja melaporkan tentang pasukan pemberontak yang sudah mengalahkan pasukan utama, masuk ibukota dan merangsek menuju istana.
” Bayudharsana, Ikuti aku bersama pasukanmu!” Hulubalang Bayudharsana langsung bergerak memberi tanda kepada pasukannya. “Aku ingin melihat Panah Perak-mu beraksi, tapi jauhi panahmu dari Pramashtara dan Adikhrisna!” Perintahku kepada hulubalang kepercayaanku itu. Aku melihat kepada kedua hulubalang lainnya di sampingku. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan makar ini. Setelah memberi hormat, mereka langsung berlari keluar dan mengumpulkan pasukannya.
Kulihat ke arah sudut ruangan yang gelap tertutup bayangan pilar ruangan, “Halimun Hitam!!” kupanggil sebuah nama. Seketika itu muncul asap mengepul di sampingku dan sesosok pendekar berpakaian hitam dengan kapak kembar berantai hadir dengan tegap menunduk, “Ikuti Hulubalang Bayudharsana dan jaga dia dengan nyawamu, aku dapat menjaga diriku sendiri!” Kataku dengan tenang. Ia terlihat ragu, tapi mengangguk dan menghilang secepat ia muncul. Halimun Hitam adalah pengawal rahasia dan juga ahli racun, ia selalu meminum terlebih dahulu sajian untukku untuk mengetahui keberadaan racun di dalamnya.
Langsung aku melompat ke arah bangunan di samping bangunan istana utama tanpa suara. Kurapal ilmu Shiwa memandang Semesta. Dan mata ketiga ku pun muncul di belakang kepalaku, kulihat hulubalang dan beberapa prajurit berbusur panah mengikutiku.
Halaman Utama istana saat itu sungguh kacau dan sesak, mayat bergelimpangan, pedang, tombak, dan gada beradu. Kira-kira ada tiga ratusan pasukan tertumpah ruah di halaman seluas ratusan dpa, menghancurkan segala tanaman dan patung di halaman yang tadinya indah itu. Prabu Adikhrisna, pemimpin pemberontak memanggil rekannya “Pramashtara! Ingat, waktu-ku… tidak banyak!” Teriak Adikhrisna.
Prabu yang berusia kisaran enam puluh tahun itu masuk ke kancah pertempuran. Dia keluarkan jurus Naga Putih, yang dengan seketika dari tangannya mengeluarkan Ular Naga terbentuk dari tulang belulang yang bagaikan tombak raksasa melesat menghujam menembus puluhan prajurit bergada hingga terlontar atau tertusuk dan terplanting. Patih Turga si raksasa Gada Besi sasarannya terlihat. Ia merapal ilmu naga bayangan agar langsung dapat melewati sebaris pasukan berperisai dan memegang gada, lalu muncul di belakang tubuh raksasa itu. Sesuai dugaannya, raksasa itu tidak bodoh, ia sempat mengelak dan mengayunkan gada besi-nya. Adikhrisna merapal jurus sambil menghindari serangan Gada Besi yang menghancurkan lantai batu di sampingnya. Sebentuk naga putih menyelimuti tangannya dengan belulang diikuti serangan pukulan ke arah Patih Turga. Lawannya sempat menangkis, tetapi ia harus terlontar jatuh dan terlihat gada besinya hancur berkeping-keping.
Patih Turga merapal ilmu ragawesi lalu kembali bangkit, tangannya menjadi sekeras besi dan langsung menyerang ke arah Prabu Adikhrisna diikuti beberapa prajurit bergada. Adikhrisna mundur beberapa langkah dan terlihat terbatuk-batuk, ia pun muntah darah berwarna ungu. Ia memukul mundur sebaris pasukan dengan sekali gebrak dan memegang dadanya sambil merapal jurus yang sepertinya untuk menenangkan rasa nyeri di dalam tubuhnya. Sebentar lagi! Harus kutahan! Benaknya berkata memberi semangat pada dirinya sendiri. Lalu Prabu membuat kuda-kuda dan dengan gerakan kedua tangannya ia mengeluarkan jurus Amukan Naga Darah, salah satu jurus andalanny. Tenaga berbentuk Naga Merah itu melesat, melibat tubuh Patih Raksasa itu, menghisap darahnya lalu terbang meninggalkan seonggok mayat kering.
Sementara, Pramashtara mencari sasarannya melesat kesana kemari sambil sesekali menebas dan menusuk. Dengan cepat ia merapal ilmunya, memejamkan mata dan langsung berteriak, ” Adikhrisna! Ia menuju disini! Beberapa hulubalangnya akan datang menyusul!” Dengan ilmu Mataprana miliknya, ia dapat melihat pergerakkan dan nyala prana dari setiap pendekar berilmu tinggi di sekitarnya, Ia melihat juga tenaga Adikhrisna bergejolak, aku harus cepat!
“Pramashtara, jaga diriku!” Ia melompat ke atas bangunan kecil tempat meneduh di taman dan tanpa membuang waktu, ia segera mengambil posisi semedi. Tak lama, titik prana di kepala, leher dan dadanya menyala terang tanda dia sedang merapal jurus pamungkasnya. Ia melihat juga prana di atas bangunan istana, pasti hanya prajurit yang mau menjebak, dapat di urus nanti.
Dengan jurus Elang Menyambar Mangsa melesat dan menendang beberapa prajurit berperisai, sekaligus menjadikannya tumpuan untuk melenting ke arah sepasukan gada di belakangnya. Pedang Batu Manikam yang sedari tadi di panggulnya diambilnya dengan tangan kiri sambil terus melayang cepat, ia memejamkan mata, ada sebelas sasaran ,enam di kanan , lima di kirinya. Dengan gerakan setengah memutar ia menyabet tiga prajurit bergada sekaligus, lalu melompat ke samping dua orang yang menyerang berbarengan dan menendang keduanya hingga melontarkan mereka menimpa sebarisan prajurit beberapa langkah di depannya. Segera ia mencari prana paling berbahaya, Patih Rangga dengan Tombak Perunggu Halilintar sedang dihadang dua patih pemberontak bersenjatakan pedang dan golok. Ia memejamkan mata dan menunggu saat tepat. Hampir berbarengan saat Patih Rangga melemparkan Tombak-nya, secepat kedipan mata ia langsung melesat melompat seperti terbang. Hanya sejengkal jaraknya dari tanah, dan saat pendekar tombak itu sadar, kedua kakinya sudah tidak dapat ia rasakan lagi, telah terputus dan ia pun jatuh terserak tak berdaya.
Tiba-tiba terdengar erangan kesakitan. Puluhan pasukan pemberontak berjatuhan dan ada yang terpental. Termasuk Patih Katrabhiwa kepercayaan Prabu Adikhrisna tewas seketika dengan lubang di lehernya. Berasal dari atap bangunan itu, tempat tenaga prana yang tadi tidak dihiraukannya.
Pasukan Pemanah! Pasukan pemberontak langsung tercerai berai. Dan ada lesatan satu panah bak angin puting beliung membunuh belasan pasukan sekaligus, itu pasti Hulubalang Bayudharsana dan panah peraknya! Pendekar sakti mandraguna itu hanya terlihat cahaya prana-nya saat mengeluarkan jurus. Pramashtara mengambil kendali, “Pasukan, menyebar dan mundur!!” Teriaknya. Beberapa prajurit yang sudah berpengalaman langsung ikut mengulang perintahnya agar terdengar bagi seluruh pasukan. Karena dua patih pemimpin pasukan penyerbuan telah tewas, sebagian pasukan seperti ayam kehilangan induknya, berkumpul merapat menjadi sasaran empuk.
Sejenak ia melihat Prabu Adikhrisna, ia sedang duduk semedi dan seekor ular naga sepanjang tiga depa berwarna merah darah menyala mengelilingi tubuhnya, ia sedang merapal jurus Pusaran Naga tiga cakrawala miliknya. Dan saat itulah, pasti sang Rajadiraja muncul dan aku harus siap untuk langkah selanjutnya, kata Pramashtara dalam hati. Sekarang, tugasku memastikan tidak ada kejutan dan gangguan hingga jurus pamungkas itu dilepaskan. “Semua pasukan, lindungi Prabu!” Teriak Mahapatih muda itu.
Kaget dan tersadar akan terasanya hawa pembunuh kental yang sangat dikenalnya, Ia langsung melihat kesegala arah. Rajadiraja ada dekat sekali, dimana dia? Pramashtara memejamkan mata dan melihat prana di sekelilingnya, benar, dia ada di atap bangunan dekat gugusan pohon bambu, hanya terdiam disana, mengawasi.
Prana siapa itu? Cepat sekali?
Belum sempat Pramashtara bertindak apapun. Tiba-tiba hulubalang Halimun Hitam dengan kapak rantai rajamayit muncul pas di samping Prabu Adikhrisna di tengah rapalan jurus pamungkasnya. Sambil mengayunkan kedua kapak beracunnya dengan setengah meremehkan ia berkata, “Mati kau!”
Sesaat kapak akan menebas leher sang Prabu, mulut Prabu memuntahkan darah berwarna ungu dan seketika menjadi kabut masuk ke dalam mulut, telinga dan hidung Halimun Hitam. Seketika ia terkejut dan merasakan sakit yang sangat, “Ini ra…hakkk..” kerongkongannya seketika menjadi lumat penuh darah dan ia hanya sempat berteriak dalam benaknya sebelum mati, “Racun Kabut Ungu Perogoh Sukma?” Sang ahli racun mati oleh racun.
Prabu berteriak, ” Pramashtara, jangan sampai…” Pramashtara langsung mengerahkan tenaga dalam dan mengeluarkan jurus Elang Emas Menantang Badai. Hawa tenaga dalam berbentuk Elang Emas menyelimuti Pramashtara, seketika ia melesat sejauh sepuluh depa lebih, secepat kilat menyambar, kaki Mahapatih muda itu telah mendarat dengan sangat keras dan telak di bahu hulubalang berpakaian hitam-hitam itu, dan tak pelak lagi terpental jauh ke sudut taman. Aman, pikirnya, semoga tidak terlihat sang Rajadiraja, sambil melesat ke arah semedi Prabu Adikhrisna.
Perlawanan sepadan! Pikirku. Sejak tadi kuperhatikan pertempuran di bawahku, Pramashtara memang selalu bersemangat, dan dia cepat sekali. Tak dapat kutahan tawa terkekeh kecilku melihat pemberontakan kecil ini, dua patih yang setia pada Prabu Adikhrisna dan pasukannya dengan susah payah menjaga posisi semedi demi mengeluarkan jurus pamungkas yang dulu pernah kumentahkan. Sayang memang, Halimun Hitam sepertinya terluka parah atau mungkin mati, entah bagaimana tadi, sepertinya tenaga pelindung Naga Tiga Cakrawala terlalu kuat buatnya. Memang insting membunuh Halimun Hitam sudah mendarah daging, bergerak secara naluri setiap ada kesempatan, berani melawan perintahku untuk tidak menyerangnya.
Amukan Naga Tiga Cakrawala, walau memang serangan pamungkas ini dikatakan dapat menghabisi sepuluh pendekar sakti mandraguna beserta membunuh ratusan pasukan beserta kudanya, jurus ini tidak perlu kulawan. Dewa Shiwa yang ada dalam diriku telah menuntunku untuk mendalami jurus dewata. Dengan jurus yang sama dulu, akan kumentahkan kembali pamungkasmu, Adikhrisna!
Kemana Pramashtara pergi? Oh, dia naik ke atas atap tempat Hulubalang Bayudharsana si Panah Perak berada, dan membunuh beberapa pemanah. Dan dia berhenti dan melihat ke arahku?
“Maulana!! Menyerah dan turunlah dari tahta!” Sahutnya setengah berteriak, “Rakyat menginginkan engkau turun! kau sudah tidak layak memimpin kerajaan ini! Kau sudah gila!”
Hah!? Berani sekali si cunguk ingusan satu ini, hanya karena pernah menjadi sahabatku dan kuberikan tahta mahapatih setelah perang melawan pasukan Raja Tran dari kerajaan sebrang, Yuen Viet, lalu memintaku turun tahta dan menyebut aku gila?
“Hai Mahapatih Pramashtara!” Jawabku. ” Segera kau minta ampun dan suruh si kakek pawang naga warna-warni itu bersujud menghadapku sekarang, supaya kematian kalian cepat dan tanpa penderitaan!” Darahku bergejolak menahan diriku mengamuk.
“Wibawamu sudah tidak seperti dulu saat kita menyatukan daerah dibawah Panji Kerajaan Chakrasanggajaya, wahai Raja lalim pembantai rakyat! Kau dulu mengatakan akan menjadi Rajadiraja yang adil, ternyata semakin besar kekuasaanmu semakin engkau tidak memperdulikan rakyat yang menuntut keadilan! Semakin tidak waras!” Sahut pemuda itu percaya diri.
Pramashtara sepertinya memang ingin kubunuh, beraninya ia menghinaku, “Tau apa kau soal mengatur kerajaan? Apalagi kerajaan sebesar Chakrasanggajaya sekarang ini? Akulah penentu keadilan! Keadilan dan ketertiban harus diatur menurut caraku, aku harus dihormati dan ditakuti! Mau rakyat jelata ataupun mentri, kematian adalah pasti untuk yang melawan!!” Jawabku. Tidak ada yang mengerti cara aku mengatur kerajaan, bahkan tidak bekas Mahapatihku yang sudah lima belas tahun bersamaku.
Kulihat Prabu Adikhrisna yang merapal ilmunya, sepertinya lebih lama dia merapal dibandingkan lima tahun lalu saat kutaklukkan dia beserta kerajaannya. Hah, dia pikir dengan menambah tenaga lalu dia bisa mengalahkanku!? Kurasakan prananya melemah, pasti habis-habisan dia untuk merapal jurus ini.
“Mahapatih Pramashtara!” Tiba-tiba suara Prabu Adikhrisna menggaung keras. “Apakah Sang Rajadiraja mau menyerahkan tahtanya?” Pramashtara melihat ke arah sang Prabu, Tiga naga cakrawala telah keluar. Naga Darah, Naga Tulang, dan Naga Bayangan, beterbangan melayang bergerak memutar, melingkari sang Prabu Adikhrisna.
Aku melangkah pelan ketepi atap, kualirkan tenaga lalu akupun melayang mendekati Prabu Adikhrisna. “Prabu Adikhrisna Satyanegara! Kau sudah berlutut dan bersumpah setia padaku tujuh tahun lalu! Apakah kau semudah itu menelan ludah dan memberontak?!” Kali ini aku benar-benar murka,” Aku adalah pilihan dewa Shiwa, aku adalah Sang Maha Utama yang mempersatukan kerajaan dan seluruh perguruan persilatan hingga Jawadwipha agar ada kedamaian! Aku telah menerimamu ikut dalam jalan takdir keemasanku dan ini balasanmu!?”
“Maulana, ambisimu dan dosamu sudah terlampau besar, sudah bertahun-tahun lamanya rakyat berteriak karena kelaparan, dan kau hanya perduli soal ilmu kadigjayaan, prajurit, pedang dan perang! Dan kau petik buah yang kau tanam sekarang!” Jawab sang prabu, ketiga naga yang mengelilinginya seolah ikut menjawab menambah kewibawaannya.
Sang prabu lalu melepaskan Naga Putih dan Merah yang langsung terbang mencari mangsa. Pasukan yang setia pada kerajaan satu persatu mati, pilihannya antara terhisap darahnya hingga kering saat dilewati Naga merah atau ditabrak dan ditusuk tulang belulang tajam Naga Putih.
Pendekar panah kepercayaan Rajadiraja sudah tidak tahan lagi, ia harus berbuat sesuatu, “Maafkan kelancanganku paduka! Hulubalang Bayudharsana memberi isyarat tangan dan seketika mengeluarkan jurus pamungkasnya, Seribu Panah Perak Puting beliung, dan beberapa anak buahnya yang terlatih juga mengeluarkan jurus yang sama, walau tidak sekuat prana jurus panah sang hulubalang. Puluhan panah yang terlontar terlihat berubah menjadi pusaran ribuan panah, tajam mengarah kepada Prabu Adikhrisna. Naga Hitam beraksi, ia langsung melingkari sang Prabu, dan serangan dahsyat itupun seolah hanya menerjang bayangan dan dengan beberapa suara dentuman menghancurkan tembok dan lantai di sisi lain dari tempat ia berposisi semedi teratai.
Sebelum serangan panah kedua ditembakkan, Naga Merah dan putih telah kembali mengelilingi sang Prabu, bersama Naga hitam lalu seperti bersatu berputar membentuk pusaran dan terbang melesat ke sasaran. Jurus Amukan naga Tiga Cakrawala, tenaga yang di keluarkannya membuat para prajurit yang masih hidup terpental. Dengan sigap dan tenang Hulubalang mengambil kembali panah dan menembakkan panah dengan jurusnya, beberapa ada yang berhasil menyamakan kecepatan dan ikut memanah. Namun walaupun ilmu panah mereka sangat dahsyat, tetapi perbedaan tingkatan yang jauh menyebabkan jurus panah mereka hancur saat beradu jurus dan mereka harus mati lumat luluh lantah menerima telak serangan berbentuk pusaran tiga naga raksasa berwarna merah, putih dan hitam itu.
Darah balas dengan darah, pikirku. Hulubalang ku yang setia sudah tiada, patih-patih ku dan pasukan penjaga istana juga telah hancur di bawah sana. Aku pandang sisa pasukan dan patih pemberontak. Hukuman dewa Shiwa akan tiba atas mereka.
Aku melihat Pramashtara menyerangku dengan pedangnya. Sambil masih merapal, aku lepaskan tiga kali jurus Trisula Shiwa ke arahnya, sembilan sinar putih melesat dari kedua tanganku. Sungguh cepat gerakannya, aku teringat saat bersama bekas Mahapatihku mengalahkan puluhan patih dari kerajaan kecil yang bersatu melawan ku, melihat ia berkelebat diantara pasukan lawan, memotong kaki, mengiris leher, terkadang sambil mengambil senjata pusaka musuh. kali ini kulihat ia bisa mengelak serangan pertama, menangkis serangan kedua dan ketiga, lalu melompat balik dan mengambil kuda-kuda untuk melesat menjauh menghindari enam cahaya mematikan yang akan mengejarnya sampai mati.
Tryambakham, Chandrashekara, Ganggadhara Devanagari Trishula! Dalam hati kuselesaikan mantra-ku. Sambil melayang diatas pasukan pemberontak, kuangkat kedua tanganku. Tubuhku bersinar, kurasakan Prana mengalir dari semesta, jurus pamungkas yang dipercayakan Dewa Shiwa kepadaku! Sebentuk tenaga menyerupai Dewa Shiwa raksasa duduk diatas Nandi sambil memegang empat senjata sakti muncul di belakangku, jurus Dewa Shiwa turun ke bumi akan menghabisi mereka! Terlihat wajah-wajah penuh kengerian diantara pasukan pemberontak.
Tanah dan batu retak merekah, gempa bumi melanda seluruh halaman istana, beberapa pohon terangkat akarnya. Retakakan makin banyak dan membuka lubang-lubang yang menelan siapapun yang tidak memiliki kemampuan untuk menghindar. Ratusan prajurit tertelan bumi. Patih yang berusaha melompat dan menghindar, akan kehilangan pijakan dan terkena semburan batu-batu tajam yang terlontar dari rekahan tanah yang seolah hidup dan lapar akan nyawa manusia. Seluruh pasukan pemberontak mati menggenaskan ditelan bumi.
Kulihat ke arah Prabu Adikhrisna, sambil terbatuk-batuk ia melayang di udara. Tiga Naga kembali muncul mengelilinginya siap untuk diperintahnya, apakah ia mau mencoba menyerangku dengan jurus yang sama ? Apakah karena nekat ia menjadi bodoh? Ia tahu dengan jurusku, tenaga dalam seberapapun dahsyatnya dapat kuserap? Ayo Prabu, tantangku dalam hati, kerahkan semua yang kau punya!
Kurasakan tenaga memancar. Aku Tersenyum. Hebat sekali, ia juga sudah menguasai ilmu Naga Tiga Cakrawala. Pramashtara melayang tegap dikelilingi tenaga tiga naga. Wajahnya sudah sekeras hatinya, hawa pembunuhnya sangat kental.
Pemuda itu melayang melesat cepat, ia memegang pedangnya mengarah kedepan dan terbang hendak menghujamku. Tiga naga itu mengikutinya dan berputar memperkuat daya serangnya dalam sebentuk pusaran tenaga dalam. Dia gabung jurus pamungkas Elang Emas dengan Naga Tiga Cakrawala! Hebat, tapi belum cukup hebat! Pikirku sambil mengeluarkan jurus Titah Dewa pada Semesta. Seluruh tubuhku bersinar dan di belakangku terbentuk Gapura Nirwana, Prana penghancur berbentuk Puluhan Dewa-Dewi mengenakan senjata dewa bermunculan, terbang melesat menyerbu sasaranku!
Naga merah dan putih tiba-tiba melepaskan diri dari pusaran tenaga Pramashtara, naga hitam menyelimuti Pramashtara dan selama beberapa saat Pramashtara hanyalah senyata bayangan. Serangan tenaga maha dahsyat berbentuk dewa-dewi khayangan melewatinya dan tenaga itu melanjutkan jalannya menabrak dan merangsek bangunan istana hingga merusak pilar-pilar utama di ruang dalam dan membuat seluruh fondasi istana roboh dan gedung megah itupun hancur berantakan.
Kuraih daya pikir dan strategi dari pengalamanku empat puluh tahun melanglang dunia menghadapi berbagai pendekar dan kadigjayaan. Lalu dengan melihat mereka berdua, aku bisa membaca apa yang akan mereka lakukan nanti!
Tenaga Naga bayangan Pramashtara akan hilang dan tak lama ia akan berwujud nyata kembali. Mata belakangnya melihat Naga Merah dan Putih menyerang bersamaan, lalu pemuda ingusan ini akan menyerangku dengan kombinasi beberapa jurus Elang, pikirku menebak langkah musuh.
Benar saja, tiba-tiba Pramashtara melepas pedangnya dan dengan berpijak pada pedangnya sebagai penambah daya lentingan, ia mengeluarkan jurus Cakar Elang Merusak Belukar. Gerakannya semakin cepat.
BrakkKKKK!!! Secepat pemuda itu menyerang, sekeras itu juga ia menabrak hawa pelindung Rajadiraja. Ternyata Gapura Nirwana adalah tenaga pelindung ber prana tingkat tinggi. Darah memancar dari hidung dan mulut Pramashtara. Dan dengan sisa tenaganya ia mendarat dan mengambil kuda-kuda dan menarik kembali tenaga Naga Merah dan Putih.
Rasakan itu Pengkhianat! Sahutku dalam hati.
Aku langsung menengok ke arah Prabu Adikhrisna, benar saja, hawa tenaga perusak berbentuk Pusaran Naga telah dilepasnya.
Kuambil prana semesta sekali lagi, kali ini akan ku teriakkan nama jurus yang pernah mengalahkannya dulu, ” DEWATA BERTANYA PADA SEMESTA!!” Sebentuk tenaga berupa kepala dewa raksasa muncul menutupiku lalu membuka mulutnya. Serangan tenaga dalam sekuat apapun akan ku telan!
Kulihat sekali lagi ke arah Pramashtara, dia memang sedang mempersiapkan kuda-kuda. Kutebak nanti dia akan menyerangku saat aku menyerap jurus sang prabu. Aku hadapi dulu serangan Adikhrisna!
Tenaga prana maha dahsyat berbentuk naga raksasa yang dapat melubangi gunung itu sudah sangat dekat hampir menghujam Rajadiraja. Seketika Pramashtara melompat sekedipan mata ke arahnya. Rajadiraja siap menghisap seluruh tenaga penghancur itu dan mementahkan serangan apapun dengan jurusnya.
Rajadiraja terkesiap, Pramashtara bukan melesat menyerangnya melainkan terbang menuju pusaran naga yang sudah akan dihisap Rajadiraja. Tiga Naga itu seketika berganti arah ikut bergerak mengikuti Pramashtara. Ternyata saat pusaran tiga naga itu tersibak, ada hawa naga berwarna ungu di tengahnya. Apa yang terjadi? Apapun yang sedang dipikir oleh rajadiraja, semua sudah terlambat, itulah Hawa Racun yang sejak awal disimpan oleh Prabu Adikhrisna.
Ada yang tidak beres, kulihat ke arah Prabu Adikhrisna, ternyata ia sudah roboh, darah ungu mengalir deras dari mulut, hidung dan telinganya.
Sekelebat aku teringat sang Prabu terbatuk dan Halimun Hitam yang tewas tiba-tiba. Dan kurasakan tenaga yang kuserap ini. Demi Shiwa, ini bukan tenaga dalam, ini hawa racun. Taktik bertempur yang lumayan. Prabu Adikhrisna sebenarnya menyimpan racun dan mereka berencana agar aku tewas menghisapnya?
Tapi Pramashtara sialan itu sedang melesat ke arahku membawa pusaran tenaga lima naga, kalau aku sudahi jurus ini, aku harus menerima serangannya! Panas gatal terasa di sekujur tubuh, tanda racun bekerja. Kulepas jurus penghisapku, hawa racun kudorong keluar dari tubuhku, aku tak akan mati oleh racun!
Sial, Pramashtara memang cepat sekali.
Heh, rasakan nanti Beban Tahta ku! Dewata, terimalah diriku.
(Kisah ini juga saay ikutsertakan di Fantasy Fiesta 2011 http://kastilfantasi.com/2011/07/beban-tahta/ )